Kamis, 01 Januari 2015

Variasi Bahasa



Pendahuluan

Bahasa memegang peranan yang sangat penting dalam proses kehidupan manusia karena bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama manusia. Bahasa menjadi beragam dan bervariasi. Terjadi keragaman bahasa ini bukan hanya disebabkan oleh para penuturnya yang tidak homogen, tetapi juga karena kegiatan interaksi social yang mereka lakukan sangat beragam. Chaer (2010:62) membagi variasi bahasa berdasarkan penutur dan penggunaanya. Berdasarkan penutur berarti, siapa yang menggunakan bahasa itu, di mana tinggalnya, bagaimana kedudukan sosialnya di dalam masyarakat, apa jenis kelaminnya, dan kapan bahasa itu digunakannya. Berdasarkan penggunaanya, berarti bahasa itu digunakan untuk apa, dalam bidang apa, apa jalur dan alatnya dan bagaimana situasi keformalannya.

Chaer (2003:53) Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Tak ada kegiatan manusia yang tidak disertai oleh bahasa. Karena keterikatan dan keterkaitan bahasa itu dengan manusia, sedangkan dalam kehidupannya di dalam masyarakat kegiatan manusia itu tidak tetap dan selalu berubah-ubah, maka bahasa itu juga menjadi ikut berubah,  tidak tetap, menjadi tidak statis. Karena itulah bahasa itu disebut dinamis.

Perubahan yang paling jelas, dan yang paling banyak terjadi, adalah pada bidang leksikon dan semantic. Barangkali, hampir setiap saaat, ada kata-kata baru muncul sebagi akibat perubahan budaya dan ilmu, atau ada kata-kata lama yang muncul dengan makna kata baru. Contohnya saja bahasa Indonesia, banyaknya muncul kosakata baru di masyarakat, dan kosakata tersebut dipakai dalam keseharian di situasi yang tidak formal. Kosakata-kosakata baru yang tidak formal biasa disebut dengan Slang, sedangkan kosakata yang ditemukan di lingkungan dan di bidang tertentu disebut Jargon.  Di bab selanjutnya akan dijelaskan lebih lanjut mengenai variasi bahasa penggunaan bahasa Slang dan Jargon.

Pembahasan
a.      Bahasa Slang
·         Etymology
The origin of the word slang (sl) is uncertain. It has a connection with Thieves' cant, and the earliest attested use (1756) refers to the vocabulary of "low or disreputable" people. Beyond that, however, its origin is unclear. A Scandinavian origin has been proposed (compare, for example, Norwegian slengenamn, which means "nickname"), but is discounted by the Oxford English Dictionary based on "date and early associations". (Sumber Wikipedia).

      ·         Definisi 

Beberapa ahli mengemukakan pendapatnya mengenai definisi bahasa Slang, antara lain:


1.      Menurut A. Chaer dan L. Agustina (2010: 67) yang dimaksud dengan slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia. Artinya, variasi ini digunakan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas, dan tidak boleh diketahui oleh kalangan di luar kelompok itu. Oleh karena itu, kosakata yang digunakan dalam slang ini selalu berubah-ubah. Slang memang lebih merupakan bidang kosakata daripada bidang fonologi maupun gramatika. Slang ini bersifat temporal; dan lebih umum digunakan oleh para kaula muda, meski kaula tua pun ada pula yang menggunakannya. Karena slang ini bersifat kelompok dan rahasia, maka timbul kesan bahwa kesan bahwa slang ini adalah bahasa rahasinya para pencoleng dan penjahat; padahal sebenarnya tidakklah demikian. Faktor kerahasiaan ini menyebabkan pula kosakata yang digunakan dalam slang seringkali berubah. Dalam hal ini yang diebut bahasa prokem (lihat Rahardjo dan Chamber Loir 1988; juga Kawira 1990) dapat dikategorikan slang.

2.   Menurut Ghil'ad Zuckermann (an Israeli linguist) "slang refers to informal (and often transient) lexical items used by a specific social group, for instance teenagers, soldiers, prisoners and thieves”. (Sumber: yahooanswer).

3. Menurut pendapat B. Spolsky (1998:35) The importance of language in establishing social identity is also shown in the case of slang. One way to characterize slang is as special kinds of “intimate” or in-group speech. Slang is a kind of jargon marked by its rejection of formal rules, its comparative freshness and its common ephermerality, and its marked use to claim solidarity.

    Sumber lain menjelaskan bahwa Slang is the use of informal words and expressions that are not considered standard in the speaker's language or dialect but are considered acceptable in certain social settings. Slang expressions may act as euphemisms and may be used as a means of identifying with one's peers. (Sumber: Wikipedia).

·         Contoh-contoh kosakata bahasa Slang
       
         a.      Bahasa Indonesia  
               -          Jangan lebay                          - jangan berlebihan
              -          Di bikin cincay saja                - Di bikin mudah saja.
              -          Jutek banget sih                     - Sombong sekali.
              -          Jayus deh                              - Tidak lucu deh
              -          Jangan plongo                       - jangan bingung/melamun
              -          Jijay banget                           - menjijikan sekali
              -          mau kemenong                      - mau kemana

     b.      Bahasa Inggris

                                           Step                 -           sl. UK             - berhenti
                                           Step                 -           sl. US              - kabur
                    
                                         No sweat         -           sl. Aus             - jangan cemas
                                         No sweat         -           sl. US              - mudah sekali

                                         Killer               -           sl. UK              - menarik
                                         Killer               -           sl. US              - bagus sekali 

                                        Get knotted     -           sl. Aus             - pergi sana!
                                        Get knotted     -           sl. US              - teriakan kemarahan

                                        Full of shit       -           sl. Aus             - omong kosong
                                        Full of shit       -           sl. US              - pembohong

                                       In cup              -          sl. US              - mabuk
                                      Old bag           -           sl. US              - wanita tua
        Old bill            -           sl. US               - polisi
        Good egg        -           sl. US               - sahabat baik
        Floozie            -           sl. Us                - pacar

Pragmatik



A.    PENGERTIAN PRAGMATIK

1.       Leech (1993: 8) juga mengartikan pragmatik sebagai studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situasions).
2.       Menurut Levinson (1983: 9), ilmu pragmatik didefinisikan sebagai berikut:
(1)    Pragmatik ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa”. Di sini, “pengertian/pemahaman bahasa” menghunjuk kepada fakta bahwa untuk mengerti sesuatu ungkapan/ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya dengan konteks pemakaiannya.
(2)    Pragmatik ialah kajian tentang kemampuan pemakai bahsa mengaitkan kalimat-kalimat dengan konteks-konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu”.
(Nababan, 1987: 2)
3.       Pragmatik juga diartikan sebagai syarat-syarat yang mengakibatkan serasi-tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi; aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran (Kridalaksana, 1993: 177)
4.       Menurut Verhaar (1996: 14), pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar, dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal “ekstralingual” yang dibicarakan.
5.       Purwo (1990: 16) mendefinisikan pragmatik sebagai telaah mengenai makna tuturan (utterance) menggunakan makna yang terikat konteks. Sedangkan memperlakukan                                                                                                                                                                                                                                                                bahasa secara pragmatik ialah memperlakukan bahasa dengan mempertimbangkan konteksnya, yakni penggunaannya pada peristiwa komunikasi (Purwo, 1990: 31).
 
B.     PERBEDAAN PRAGMATIK, SINTAKSIS, SEMANTIK, SEMIOTIK, DAN HERMENEUTIK

1.      Pragmatik studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situasions) {Leech (1993: 8)}
2.      Sintaksis : ilmu tentang hubungannya antara satu kata dengan kata lain dalam satu kalimat
3.         Semantik :
4.      Semiotik : Semiotik (semiotics) berasal dari bahasa Yunani “semeion” yang berarti tanda atau sign. Tanda tersebut menyampaikan suatu informasi sehingga bersifat komunikatif, mampu menggantikan suatu yang lain (stand for something else) yang dapat dipikirkan atau dibayangkan (Broadbent, 1980). Semiotik adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda atau teori tentang pemberian tanda.
5.      Hermeneutik : Menurut ilmu bahasa, kata hermenutika berasal dari bahasa Yunani, hermeneuein, yang berarti menafsirkan. ¹ Asal kata hermeneutik, dari kata hermes, dewa dalam mitolologi Yunani


C.    SEJARAH PRAGMATIK

Seorang filosof yang bernama Charles Morris, memperkenalkan sebuah cabang ilmu yaitu pragmatik. Pragmatik adalah kajian tentang hubungan tanda dengan orang yang menginterpretasikan tanda itu (Moris, 1938: 6 dalam Levinson, 1997: 1).
 Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah pragmatik secara berbeda-beda. Yule (1996: 3), menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlib at dalam percakapan tertentu.
Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian, pertama, dengan menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). Selanjutnya Thomas (1995: 22), dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran, ujaran mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction).
Menurut pendapat Parker (1986) pragmatik adalah cabang linguistik yang mempel ajari struktur bahasa secara eksternal, hal ini mempunyai maksud bagaimana satuan lingual tertentu digunakan dalam komunikasi yang sebenarnya. Antara studi tata bahasa dan pragmatik dibedakan menurut Parker.
Mey (1998), seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5), mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi, yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme; (2) kecenderungan sosial-kritis; (3) tradisi filsafat; dan (4) tradisi etnometodologi.
Melalui bukunya, How to Do Things with Words, Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. Sebab, seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)), sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh, sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik, yaitu pragmatik filosofis (Austin, Searle, dan Grice), pragmatik neo-Gricean (Cole), pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson), dan pragmatik interaktif (Thomas).
 Austin, seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30), bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis, seperti Russel dan Moore, yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan, dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. Contoh.

Ada enam kata dalam kalimat ini  Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono

Dari contoh di atas, dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition), yaitu, sesuai contoh di atas, kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar karena sesuai dengan kenyataan. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30).
Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya, melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. Melalui hipotesis performatifnya, yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act), Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements), melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). Contoh.

-          Dengan ini, saya nikahkan kalian (performatif)
-          Rumah Joni terbakar (konstatif)
-           
Dalam pengajaran bahasa, seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22), terdapat keterkaitan, yaitu bahwa pengetahuan pragmatik, dalam arti praktis, patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. Dalam pengajaran bahasa Indonesia, misalnya, pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya, karena selain benar, bahasa yang digunakan harus baik. Dalam pengajaran bahasa asing, pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut.
Secara umum, dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence), yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu, kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik, dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa.